Ditulis oleh: Anne Ahira
Pernahkah ANDA mendengar kisah Helen Kehler? Dia adalah seorang perempuan yang dilahirkan dalam kondisi buta dan tuli.
Karena cacat yang dialaminya, dia tidak bisa membaca, melihat, dan mendengar. Nah, dlm kondisi seperti itulah Helen Kehler dilahirkan. Tidak ada seorangpun yang menginginkan lahir dalam kondisi seperti itu. Seandainya Helen Kehler diberi pilihan, pasti dia akan memilih untuk lahir dalam keadaan normal.
Namun siapa sangka, dengan segala kekurangannya, dia memiliki semangat hidup yang luar biasa, dan tumbuh menjadi seorang legendaris.
Dengan segala keterbatasannya, ia mampu memberikan motivasi dan semangat hidup kepada mereka yang memiliki keterbatasan pula, seperti cacat, buta dan tuli.
Ia mengharapkan, semua orang cacat seperti dirinya mampu menjalani kehidupan seperti manusia normal lainnya, meski itu teramat sulit dilakukan.
Ada sebuah kalimat fantastis yang pernah diucapkan Helen Kehler:
"It would be a blessing if each person could be blind and deaf for a few days during his grown-up live. It would make them see and appreciate their ability to experience the joy of sound".
Intinya, menurut dia merupakan sebuah anugrah bila setiap org yang sudah menginjak dewasa itu mengalami buta dan tuli beberapa hari saja. Dengan demikian, setiap orang akan lebih menghargai hidupnya, paling tidak saat mendengar suara!
Sekarang, coba ANDA bayangkan sejenak....
ANDA menjadi seorang yang buta dan tuli selama dua atau tiga hari saja! Tutup mata dan telinga selama rentang waktu tersebut. Jangan biarkan diri ANDA melihat atau mendengar apapun. Selama beberapa hari itu ANDA tidak bisa melihat indahnya dunia, ANDA tidak bisa melihat terangnya matahari, birunya langit, dan bahkan ANDA tidak bisa menikmati musik/radio dan acara tv kesayangan!
Bagaimana ANDA? Apakah beberapa hari cukup berat? Bagaimana kalau dikurangi dua atau tiga jam saja? Saya yakin hal ini akan mengingatkan siapa saja, bahwa betapa sering kita terlupa untuk bersyukur atas apa yang kita miliki. Kesempurnaan yang ada dalam diri kita!
Seringkali yang terjadi dalam hidup kita adalah keluhan demi keluhan.... Hingga tidak pernah menghargai apa yang sudah kita miliki.
Padahal bisa jadi, apa yang kita miliki merupakan kemewahan yang tidak pernah bisa dinikmati oleh orang lain. Ya! Kemewahan utk orang lain!
Coba ANDA renungkan, bagaimana orang yang tidak memiliki kaki? Maka berjalan adalah sebuah kemewahan yang luar biasa baginya.
Helen Kehler pernah mengatakan, seandainya ia diijinkan bisa melihat satu hari saja, maka ia yakinakan mampu melakukan banyak hal, termasuk membuat sebuah tulisan yang menarik.
Dari sini kita bisa mengambil pelajaran, jika kita mampu menghargai apa yang kita miliki, hal-hal yang sudah ada dalam diri kita, tentunya kita akan bisa memandang hidup dengan lebih baik.
Kita akan jarang mengeluh dan jarang merasa susah! Malah sebaliknya, kita akan mampu berpikir positif dan menjadi seorang manusia yang lebih baik. :-)
Monday, November 16, 2009
Thursday, November 5, 2009
Kecerdasan Emosional
Cara Efektif Membangkitkan Kecerdasan Spiritual
Written by
NIRMALA
Kecerdasan emosional memang membuat orang lebih mudah mencapai sukses dalam hidup.Tapi untuk menemukan kebahagiaan dan makna dari kehidupan, diperlukan kecerdasan spiritual.
Awal juni lalu, kita dikejutkan oleh peristiwa tragis yang terjadi di Bandung. Seorang wanita yang dikenal sholeh, berpendidikan tinggi, sanggup membunuh 3 anaknya sendiri dalam waktu 24 jam. Bagaimana mungkin seorang wanita yang taat beragama bisa melakukan hal seperti itu? Apalagi kemudian terungkap alasan dari tindakannya itu. Katanya, ia membunuh anak-anaknya justru karena sangat menyayangi anak-anaknya dan takul tidak mampu menjadi ibu yang baik.
Menurut DR Jalaluddin Rakhmat MSc, itu bisa terjadi karena dia tidak bahagia. Kalau meminjam istilahnya Tony Buzan, pakar tentang otak manusia dari Amerika, kemampuan seseorang untuk berbahagia dalam segala situasi berhubungan dengan kecerdasan spiritualnya. Seseorang yang dikatakan taat beragama belum tentu cerdas secara spiritual. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan kecerdasan spiritual? Dan apa bedanya dengan kecerdasan emosional?
Bedanya Kecerdasan Emosional dan Spiritual
Pada awalnya, orang hanya mengenal kecerdasan iritelektual, kemudian muncul kecerdasan emosional dan kini kecerdasan spiritual. Menurut DR Jalaluddin Rakhmat MSc, seorang psikolog, kecerdasan emosional (emotional intelligent) dipopulerkan Daniel Coleman meskipun dia bukan penemunya. Psikolog Howard Gardner adalah orang yang pertama menemukan sejenis kecerdasan untuk bisa memaharni orang-orang lain, dan disebutnya sebagai
kecerdasan interpersonal (interpersonal intelligent).
Oleh Daniel Coleman, selelah sepakat dengan penelili-peneliti lain, kecerdasan interpersonal itu disebutnya kecerdasan emosional. Pada intinya, kecerdasan emosional adalah kemampuan orang untuk memahami orang-orang di sekitamya, berinteraksi untuk mengembangkan empati,simpati, dan untuk bisa bekerjasama.
Sedangkan Howard Gardner merumuskan delapan kecerdasan majemuk, yaitu kecerdasan musikal, kinestetik (kemampuan menari), visual (kemampuan menggambar, mengekspresikan sesuatu dalam bentuk lukisan), logis matematis, interpersonal (personal), intrapersonal (berpikir refleksi), linguistik (menggunakan bahasa), dan naturalistik. Tapi Gardner tidak memasukkan kecerdasan spiritual karena katanya kecerdasan spiritual itu tidak punya tempat di dalam otak kita seperti kecerdasan yang lain.
Tapi belakangan kecerdasan spiritual itu menurut penelitian-penelitian di bidang neurologi (ilmu tentang syaraf) justru punya tempat di dalam otak. Jadi ada bagian dari otak kita dengan kemampuan untuk mengalami pengalaman-pengalaman spiritual, untuk melihat Tuhan. Dalam hal ini maksudnya adalah menyadari kehadiran Tuhan di sekitar kita dan untuk memberi makna dalam kehidupan. jadi ciri orang yang cerdas secara spiritual di antaranya adalah bisa memberi makna dalam kehidupannya.
Sedangkan ciri umum orang yang cerdas secara emosional yaitu sukses dalam kehidupan, sukses dalam pekerjaan, mampu bekerjasama dengan orang lain, mampu mengendalikan emosi. Dia juga biasanya pintar menarik hati orang lain, bisa memahami sifat setiap orang dengan tepat, biasanya juga hafal nama-nama orang yang dikenalnya dan mengetahui kesenangan dan ketidaksukaan orang itu. Orang yang cerdas secara emosional itu dalam tingkat yang negatif bisa memanipulasi orang tapi dalam tingkat yang positif bisa menjadi
pemimpin yang baik.
Cerdas Spiritual Beda Dengan Sikap Religius
Sayangnya, masih menurut DR jalaluddin Rakhmat, di Indonesia kecerdasan spiritual lebih sering diartikan rajin salat, rajin beribadah, rajin ke masjid, pokoknya yang menyangkut agama. Jadi kecerdasan spiritual dipahami secara keliru. Padahal kecerdasan spiritual itu kemampuan orang untuk memberi makna dalam kehidupan. Ada juga orang yang mengartikan kecerdasan spiritual itu sebagai kemampuan untuk tetap bahagia dalam situasi apapun tanpa tergantung kepada situasinya.
Mengutip Tony Buzan, pakar mengenai otak dari Amerika, DR jalaluddin Rakhmatmenyebutkan bahw ciri orang yang cerdas spiritual itu di antaranya adalah senang berbuat baik, senang menolong orang lain, telah menemukan tujuan hidupnya, jadi merasa memikul sebuah misi yang mulia kemudian merasa terhubung dengan sumber kekuatan di alam semesta (Tuhan atau apapun yang diyakini, kekuatan alam semesta misalnya), dan punya
sense of humor yang baik. Di Amerika, pelatihan-pelatihan kecerdasan spiritual ditujukan untuk itu, yaitu melatih orang memilih kebahagiaan di dalam hidup.
Penelitian itu dilanjutkan sampai muncul aliran di dalam psikologi yang membuat terapi baru. Dulu kalau ada orang depresi diobati dengan obat anti depresi seperti prozak, sekarang cukup disuruh beramal, menolong orang lain, ternyata terjadi perbaikan. Dengan menolong dan beramal, dia menemukan bahwa hidupnya bermakna, dan itu namanya kecerdasan spiritual, jadi orang yang cerdas spiritual itu bukan yang paling rajin salatnya, tapi yang senang membantu orang lain, mempunyai kemampuan empati yang tinggi, juga terhadap penderitaan orang lain, dan bisa memilih kebahagiaan dalam hidupnya.
Di Indonesia buku Kecerdasan Spiritual yang pertama ditulis oleh Danah Zohar. Saya memberikan kata pengantar disitu sekaligus mengkritik Danah Zohar, tapi ada juga yang tidak saya kritik yaitu kata-kata Danah Zohar bahwa bisa saja seorang ateis malah memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi. Banyak orang menjadi ateis itu bukan karena argumentasi rasional tapi karena tingkah laku para pemeluk agama yang mengecewakan mereka misalnya melihat orang-orang beragama yang tidak bisa menghargai perbedaan pendapat, merasa dirinya paling benar, dan suka menghakimi orang lain.”
“jadi ada orang yang tidak mempersoalkan Tuhan, yang penting bisa berbuat baik kepada orang banyak. Ini ciri orang yang cerdas spiritual juga. Sekarang baru terbukti secara psikologis bahwa banyak menolong orang itu membuat bahagia. Mengapa? Karena dengan begitu kita jadi menemukan misi hidup.” Demikian penjelasan DR |alaluddin Rakhmat.
Kecerdasan Spiritual Bisa Dilatih
Kini pelatihan untuk meningkatkan kecerdasan spiritual semakin mudah ditemukan (lihat boks “Cara praktis cerdas spiritual” dan “Cerdas emosi dan spiritual lewat sembilan jalan”). Masih menurut DR Jalaluddin Rakhmat, mengikuti training bisa saja membantu mempengaruhi kecerdasan spiritual selama konsepnya benar. Keberhasilan seseorang belajar lewat training dapat dilihat jika setelah mengikuti training hidupnya berubah menjadi positif yang tadinya depresi atau menderita kecemasan, ketakutan pada masa depan, kebingungan, lalu menjadi bahagia.
Cara Praktis Cerdas Spiritual
Menurut Erbe Sentanu dari Katahati Institute, kecerdasan spiritual itu mempunyai banyak konsep, kiat, dan caranya. “Saya sendiri selalu melihat ke sisi pragmatis dan empirisnya,” katanya. Orang yang cerdas secara spiritual itu bagaimana sih rasanya? Otak dan tubuhnya beroperasi seperti apa? “Buat saya cerdas secara spiritual atau dekat dengan Tuhan itu harus dibuktikan dengan berada di zona ikhlas yang mensyaratkan tiga hal, yaitu gelornbang otaknya harus lebih banyak dalam posisi Alfa dan Tetha, kemudian sistem perkabelan otaknya (neuropeptide) serasi dan memunculkan perasaan tertentu kepada Tuhan, lalu tubuhnya harus cukup mengandung hormon serotonin, endorfin, dan melantonin dalam komposisi yang pas. Dalam kondisi itu, maka dengan sendirinya ciri-ciri kecerdasan spiritual akan muncul.”
“Tanpa ketiga syarat itu, agak sulit dipercaya. Misalnya seseorang mengaku dekat dengan Tuhan tapi hormon di tubuhnya dominan kortisol, yaitu hormon yang muncul pada saat orang stres, bagaimana mungkin? Seseorang yang dekat dengan Tuhan mestinya lebih banyak berada dalam kondisi khusyuk, kondisi rileks, dan hormon di tubuhnya pasti hormon yang bagus seperti hormon DHEA, serotonin, endorfin, dan melantonin”.
Mempelajari kecerdasan spiritual tidak bisa begitu saja lewat buku, karena hasilnya hanyalah pemahaman kecerdasan spiritual lewat logika, apalagi kalau membacanya sambil stres. Akan lebih efektif jika menggunakar brainwave technology, yaitu dengan mendengarkan CD musik yang berfungsi rnenarik gelornbang otak ke Alfa-Theta selama 20 menit pada pagi dan petang hari.
Kita juga bisa melatih kecerdasan spiritual lewat puasa dengan syarat puasa tersebut dijalankan dengan benar. Karena puasa bisa menurunkan gelornbang otak dari Beta ke Alfa-Theta sehingga rnembuat orang lebih sabar dan memunculkan keinginan untuk berbuat baik. Kalau itu berlanjut hingga 10 hari maka otaknya akan stabil beroperasi di Alfa-Theta. ”
“Kalau hal itu bisa berlanjut hingga 20 hari, maka hormon-hormon yang baik dan menenangkan akan diproduksi oleh tubuh. Saat itu dia akan melihat hidup ini dengan cara lain, menjadi mudah bersyukur, mudah merasa terharu.”
”Memunculkan perasaan mudah bersyukur itu penting sekali karena rasa syukur bisa diartikan sebagai kemampuan menikmati hidup ini apapun kondisinya, sehingga susah atau senang rasanya tetap nikmat. Rasa syukur yang benar, dalam arti betul-betul menghayati nikmatnya hidup, juga sangat membantu memunculkan kecerdasan spiritual.
Memperkaya Sisi Spiritual Lewat Pelatihan Rizal Pingai (karyawan swasta)
“Saya sudah sering mengikuti pelatihan, diantaranya ESQ. Holistik Alwan Nasution, juga Neurolog Wiwoho,” tutur Rizal Tingai. “Menurut saya, setiap pelatihan selalu memberikan nilai tambah dalam perkembangan jiwa. Tapi jawaban dari apa yang saya cari selama 32 tahun baru saya ternukan setelah mengikuti pelatihan di Katahati Institute,” sambungnya.
“Tadinya saya termasuk orang dengan temperamen tinggi, tapi kini saya berubah. Dulu saya stres menghadapi kemacetan, sekarang bisa ikhlas dan bisa berpikir barangkali setiap orang memang punya tujuan yang sama. Selain itu, kalau dulu setiap berdoa saya terus saja meminta tapi lupa bersyukur, kini setiap berdoa selalu diawali dengan mensyukuri semua yang diberikan Tuhan. Dengan anak-anak pun saya lebih sabar dan pengertian. Saya pernah minta maaf kepada anak saya karena merasa salah, padahal dulu itu sesuatu yang sulit dilakukan.”
“Dalam hidup, kita cenderung lebih banyak menggunakan otak. Padahal dengan perasaan dan keikhasan kita justru bisa menghasilkan loncatan-loncatan dalam kehidupan. Bermirnpi ketika tidur itu biasa, yang tidak biasa adalah bermimpi di alam sadar. Karena setiap orang harus punya imajinasi untuk diwujudkan, jadi kita perlu melakukan improvisasi dan inovasi terus menerus,” ujarnya lagi.
Doddy Nasution (asisten manager purchasing sebuah perusahaan asing)“Pengalaman saya selelah mengikuti berbagai pelatihan, ternyata bahwa pelatihan yang membuat orang menangis itu efeknya hanya dalam jangka pendek,” tutur Doddy. “Pada saat pelatihan memang rasanya lega, karena kita memang butuh pelepasan masalah-masalah hidup. Tapi setelah di rumah semua masalah itu kembali lagi. Jadi rasanya hanya sesaat lari
dari kenyataan saja, ” lanjutnya.
“Saya lebih cocok dengan solusi yang diberikan kang Jallal (DR Jalaluddin Rakhmat - Red), yaitu dengan membantu orang lain. Beramal baik itu meringankan perasaan. Bukan berarti masalah kita lalu selesai, tapi masalah kita itu menjadi terasa ringan dengan menolong orang tanpa rnemandang agama, suku, ras. Pokoknya kepada semua mahluk Tuhan tanpa pilih-pilih.”
“Dengan berkhidmat kepada sesama seperti itu ternyata membuat kita lebih kuat, meringankan derita, dan lebih cepat mengantarkan kita pada kecerdasan spiritual yang lebih tinggi. Dengan begitu, kita menjadi lebih dekat dengan Tuhan dan Tuhan pun akhirnya memudahkan urusan-urusan kita,” begitu pendapat Doddy Nasution.
Abi (wiraswasta) “Sejak dulu saya memang senang membaca buku-buku psikologi, dan suka mengikuti
seminar-seminar motivasi seperti seminarnya Anthony Robbins, juga pelatihan-pelatihan. Yang saya rasakan, pengaruh semua bacaan, seminar, dan pelatihan itu biasanya hanya bertahan selama 2 bulan,” tutur Abi.
“Tapi sejak mengikuti pelatihan di Katahati, pikiran saya rasanya seperti diset ulang dengan brainwave technology sehingga terjadi perubahan paradigma dan cara saya dalam memandang segala sesuatu. Rasanya saya jadi lebih fokus dalam menghadapi masalah dan bisa tenang. Emosi pun terkontrol dengan baik, saya tak lagi mudah marah dan tersinggung. Di jalanan yang macet, kaiau biasanya merasa mendongkol, kini malah bisa menikmati kemacetan,” tutur Abi.
“Masalah itu kalau dinikmati ternyata bisa menjadi ringan; kalau diterima dengan ikhlas dan senyuman, bisa lebih mudah selesai. Kini karena hati saya bisa menerima segala keadaan, maka tak ada amarah, tak ada perasaan atau tindakan negatif. Sangat luar biasa. Salat menjadi lebih khusyuk, berdzikir pun enak. Kata sekretaris di kantor, sekarang saya juga menjadi lebih sering tersenyum,” demikian Abi.
Iranti Emingpradja (artis, presenter, penulis)
“Mengerti kecerdasan spiritual lewat rasio itu mudah, tapi untuk betul-betul menyadarinya dan mengamalkannya itu susah, ” demikian komentar Irianti Erningpradja. “Buku pertama yang saya tulis adalah tentang kecerdasan spiritual (judulnya Kebiasaan sehari-hari untuk meningkatkan kecerdasan spiritual) Jadi saya sudah lama tahu bahwa ciri orang yang kecerdasan spiritualnya tinggi itu diantaranya mudah memaafkan, jujur, sabar, tidak mudah tersinggung, kreatif, terbuka, spontan, memahami jati diri, memiliki misi hidup,dll. Tapi untuk bisa terus menerus mempraktikkan semua itu ternyata tidak mudah,” sambungnya.
“Sebenarnya saya sudah sering mengikuti pelatihan, tapi setelah mengikuti pelatihan di Katahati Institute, barulah saya sadar bagaimana caranya supaya cerdas spiritual,” katanya.
“Dengan cara connect ke dalam hati, semua karakteristik yang harus dimiliki tersebut ternyata bisa muncul sendiri dari dalam dan lebih mudah dipraktikkan. Jadi bukan lagi berupa hafalan atau teori saja. Kuncinya ternyata satu hal itu, consult your heart.”
“Namun setelah itu bukan berarti lalu semuanya selesai karena manusia tetap harus terus tumbuh. Manusia adalah spirit yang sifatnya tak terbatas. Dengan terus browsing lewat hati, kita bisa terus menemukan pemahaman yang tidak pernah berhenti.” lanjutnya dengan bijak.
Saya menyadari apa yang ada di benak kita dapat terwujud asalkan, kita benar-benar yakin bahwa Allah akan memberi kita tetapi kita harus berusaha untuk menuwujudkannya. Artinya kita tidak hanya tinggal diam menunggu, namun harus tetap aktif. Alhamdulillah beberapa mimpi saya saat ini udah mulai terwujud, meskipun jadi PNS saat sekarang beberapa usaha yang saya impikan mulai menampakkan hasil yang signifikan. Semoga apa yg telah saya dapatkan dapat merambah seluruh insan Indonesia. Jangan pernah menilai orang lain karena penilaian itu hanya akan membebani otak adan hati kita, sehingga kita tak mampu untuk mencari ide-ide maupun usaha untuk bangit. karena otak dan hati kita dipenuhi oleh nilai-nilai orang lain.
satu lagi sebagai seorang pendidik saya sedikit banyak mengajak anak didik saya untuk tidak pernah menyerah dan lebih mudah untuk meminta maaf dalam artinya tidak mencari siapa yang benar dan salah sudah mulai tumbuh dalam jiwa anak didik meskipun masih sebatas 10% tapi lambat laun akan naik dan naik lagi. Semoga Allah meridhoi dan mengabulkan-Nya. Amien
Written by
NIRMALA
Kecerdasan emosional memang membuat orang lebih mudah mencapai sukses dalam hidup.Tapi untuk menemukan kebahagiaan dan makna dari kehidupan, diperlukan kecerdasan spiritual.
Awal juni lalu, kita dikejutkan oleh peristiwa tragis yang terjadi di Bandung. Seorang wanita yang dikenal sholeh, berpendidikan tinggi, sanggup membunuh 3 anaknya sendiri dalam waktu 24 jam. Bagaimana mungkin seorang wanita yang taat beragama bisa melakukan hal seperti itu? Apalagi kemudian terungkap alasan dari tindakannya itu. Katanya, ia membunuh anak-anaknya justru karena sangat menyayangi anak-anaknya dan takul tidak mampu menjadi ibu yang baik.
Menurut DR Jalaluddin Rakhmat MSc, itu bisa terjadi karena dia tidak bahagia. Kalau meminjam istilahnya Tony Buzan, pakar tentang otak manusia dari Amerika, kemampuan seseorang untuk berbahagia dalam segala situasi berhubungan dengan kecerdasan spiritualnya. Seseorang yang dikatakan taat beragama belum tentu cerdas secara spiritual. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan kecerdasan spiritual? Dan apa bedanya dengan kecerdasan emosional?
Bedanya Kecerdasan Emosional dan Spiritual
Pada awalnya, orang hanya mengenal kecerdasan iritelektual, kemudian muncul kecerdasan emosional dan kini kecerdasan spiritual. Menurut DR Jalaluddin Rakhmat MSc, seorang psikolog, kecerdasan emosional (emotional intelligent) dipopulerkan Daniel Coleman meskipun dia bukan penemunya. Psikolog Howard Gardner adalah orang yang pertama menemukan sejenis kecerdasan untuk bisa memaharni orang-orang lain, dan disebutnya sebagai
kecerdasan interpersonal (interpersonal intelligent).
Oleh Daniel Coleman, selelah sepakat dengan penelili-peneliti lain, kecerdasan interpersonal itu disebutnya kecerdasan emosional. Pada intinya, kecerdasan emosional adalah kemampuan orang untuk memahami orang-orang di sekitamya, berinteraksi untuk mengembangkan empati,simpati, dan untuk bisa bekerjasama.
Sedangkan Howard Gardner merumuskan delapan kecerdasan majemuk, yaitu kecerdasan musikal, kinestetik (kemampuan menari), visual (kemampuan menggambar, mengekspresikan sesuatu dalam bentuk lukisan), logis matematis, interpersonal (personal), intrapersonal (berpikir refleksi), linguistik (menggunakan bahasa), dan naturalistik. Tapi Gardner tidak memasukkan kecerdasan spiritual karena katanya kecerdasan spiritual itu tidak punya tempat di dalam otak kita seperti kecerdasan yang lain.
Tapi belakangan kecerdasan spiritual itu menurut penelitian-penelitian di bidang neurologi (ilmu tentang syaraf) justru punya tempat di dalam otak. Jadi ada bagian dari otak kita dengan kemampuan untuk mengalami pengalaman-pengalaman spiritual, untuk melihat Tuhan. Dalam hal ini maksudnya adalah menyadari kehadiran Tuhan di sekitar kita dan untuk memberi makna dalam kehidupan. jadi ciri orang yang cerdas secara spiritual di antaranya adalah bisa memberi makna dalam kehidupannya.
Sedangkan ciri umum orang yang cerdas secara emosional yaitu sukses dalam kehidupan, sukses dalam pekerjaan, mampu bekerjasama dengan orang lain, mampu mengendalikan emosi. Dia juga biasanya pintar menarik hati orang lain, bisa memahami sifat setiap orang dengan tepat, biasanya juga hafal nama-nama orang yang dikenalnya dan mengetahui kesenangan dan ketidaksukaan orang itu. Orang yang cerdas secara emosional itu dalam tingkat yang negatif bisa memanipulasi orang tapi dalam tingkat yang positif bisa menjadi
pemimpin yang baik.
Cerdas Spiritual Beda Dengan Sikap Religius
Sayangnya, masih menurut DR jalaluddin Rakhmat, di Indonesia kecerdasan spiritual lebih sering diartikan rajin salat, rajin beribadah, rajin ke masjid, pokoknya yang menyangkut agama. Jadi kecerdasan spiritual dipahami secara keliru. Padahal kecerdasan spiritual itu kemampuan orang untuk memberi makna dalam kehidupan. Ada juga orang yang mengartikan kecerdasan spiritual itu sebagai kemampuan untuk tetap bahagia dalam situasi apapun tanpa tergantung kepada situasinya.
Mengutip Tony Buzan, pakar mengenai otak dari Amerika, DR jalaluddin Rakhmatmenyebutkan bahw ciri orang yang cerdas spiritual itu di antaranya adalah senang berbuat baik, senang menolong orang lain, telah menemukan tujuan hidupnya, jadi merasa memikul sebuah misi yang mulia kemudian merasa terhubung dengan sumber kekuatan di alam semesta (Tuhan atau apapun yang diyakini, kekuatan alam semesta misalnya), dan punya
sense of humor yang baik. Di Amerika, pelatihan-pelatihan kecerdasan spiritual ditujukan untuk itu, yaitu melatih orang memilih kebahagiaan di dalam hidup.
Penelitian itu dilanjutkan sampai muncul aliran di dalam psikologi yang membuat terapi baru. Dulu kalau ada orang depresi diobati dengan obat anti depresi seperti prozak, sekarang cukup disuruh beramal, menolong orang lain, ternyata terjadi perbaikan. Dengan menolong dan beramal, dia menemukan bahwa hidupnya bermakna, dan itu namanya kecerdasan spiritual, jadi orang yang cerdas spiritual itu bukan yang paling rajin salatnya, tapi yang senang membantu orang lain, mempunyai kemampuan empati yang tinggi, juga terhadap penderitaan orang lain, dan bisa memilih kebahagiaan dalam hidupnya.
Di Indonesia buku Kecerdasan Spiritual yang pertama ditulis oleh Danah Zohar. Saya memberikan kata pengantar disitu sekaligus mengkritik Danah Zohar, tapi ada juga yang tidak saya kritik yaitu kata-kata Danah Zohar bahwa bisa saja seorang ateis malah memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi. Banyak orang menjadi ateis itu bukan karena argumentasi rasional tapi karena tingkah laku para pemeluk agama yang mengecewakan mereka misalnya melihat orang-orang beragama yang tidak bisa menghargai perbedaan pendapat, merasa dirinya paling benar, dan suka menghakimi orang lain.”
“jadi ada orang yang tidak mempersoalkan Tuhan, yang penting bisa berbuat baik kepada orang banyak. Ini ciri orang yang cerdas spiritual juga. Sekarang baru terbukti secara psikologis bahwa banyak menolong orang itu membuat bahagia. Mengapa? Karena dengan begitu kita jadi menemukan misi hidup.” Demikian penjelasan DR |alaluddin Rakhmat.
Kecerdasan Spiritual Bisa Dilatih
Kini pelatihan untuk meningkatkan kecerdasan spiritual semakin mudah ditemukan (lihat boks “Cara praktis cerdas spiritual” dan “Cerdas emosi dan spiritual lewat sembilan jalan”). Masih menurut DR Jalaluddin Rakhmat, mengikuti training bisa saja membantu mempengaruhi kecerdasan spiritual selama konsepnya benar. Keberhasilan seseorang belajar lewat training dapat dilihat jika setelah mengikuti training hidupnya berubah menjadi positif yang tadinya depresi atau menderita kecemasan, ketakutan pada masa depan, kebingungan, lalu menjadi bahagia.
Cara Praktis Cerdas Spiritual
Menurut Erbe Sentanu dari Katahati Institute, kecerdasan spiritual itu mempunyai banyak konsep, kiat, dan caranya. “Saya sendiri selalu melihat ke sisi pragmatis dan empirisnya,” katanya. Orang yang cerdas secara spiritual itu bagaimana sih rasanya? Otak dan tubuhnya beroperasi seperti apa? “Buat saya cerdas secara spiritual atau dekat dengan Tuhan itu harus dibuktikan dengan berada di zona ikhlas yang mensyaratkan tiga hal, yaitu gelornbang otaknya harus lebih banyak dalam posisi Alfa dan Tetha, kemudian sistem perkabelan otaknya (neuropeptide) serasi dan memunculkan perasaan tertentu kepada Tuhan, lalu tubuhnya harus cukup mengandung hormon serotonin, endorfin, dan melantonin dalam komposisi yang pas. Dalam kondisi itu, maka dengan sendirinya ciri-ciri kecerdasan spiritual akan muncul.”
“Tanpa ketiga syarat itu, agak sulit dipercaya. Misalnya seseorang mengaku dekat dengan Tuhan tapi hormon di tubuhnya dominan kortisol, yaitu hormon yang muncul pada saat orang stres, bagaimana mungkin? Seseorang yang dekat dengan Tuhan mestinya lebih banyak berada dalam kondisi khusyuk, kondisi rileks, dan hormon di tubuhnya pasti hormon yang bagus seperti hormon DHEA, serotonin, endorfin, dan melantonin”.
Mempelajari kecerdasan spiritual tidak bisa begitu saja lewat buku, karena hasilnya hanyalah pemahaman kecerdasan spiritual lewat logika, apalagi kalau membacanya sambil stres. Akan lebih efektif jika menggunakar brainwave technology, yaitu dengan mendengarkan CD musik yang berfungsi rnenarik gelornbang otak ke Alfa-Theta selama 20 menit pada pagi dan petang hari.
Kita juga bisa melatih kecerdasan spiritual lewat puasa dengan syarat puasa tersebut dijalankan dengan benar. Karena puasa bisa menurunkan gelornbang otak dari Beta ke Alfa-Theta sehingga rnembuat orang lebih sabar dan memunculkan keinginan untuk berbuat baik. Kalau itu berlanjut hingga 10 hari maka otaknya akan stabil beroperasi di Alfa-Theta. ”
“Kalau hal itu bisa berlanjut hingga 20 hari, maka hormon-hormon yang baik dan menenangkan akan diproduksi oleh tubuh. Saat itu dia akan melihat hidup ini dengan cara lain, menjadi mudah bersyukur, mudah merasa terharu.”
”Memunculkan perasaan mudah bersyukur itu penting sekali karena rasa syukur bisa diartikan sebagai kemampuan menikmati hidup ini apapun kondisinya, sehingga susah atau senang rasanya tetap nikmat. Rasa syukur yang benar, dalam arti betul-betul menghayati nikmatnya hidup, juga sangat membantu memunculkan kecerdasan spiritual.
Memperkaya Sisi Spiritual Lewat Pelatihan Rizal Pingai (karyawan swasta)
“Saya sudah sering mengikuti pelatihan, diantaranya ESQ. Holistik Alwan Nasution, juga Neurolog Wiwoho,” tutur Rizal Tingai. “Menurut saya, setiap pelatihan selalu memberikan nilai tambah dalam perkembangan jiwa. Tapi jawaban dari apa yang saya cari selama 32 tahun baru saya ternukan setelah mengikuti pelatihan di Katahati Institute,” sambungnya.
“Tadinya saya termasuk orang dengan temperamen tinggi, tapi kini saya berubah. Dulu saya stres menghadapi kemacetan, sekarang bisa ikhlas dan bisa berpikir barangkali setiap orang memang punya tujuan yang sama. Selain itu, kalau dulu setiap berdoa saya terus saja meminta tapi lupa bersyukur, kini setiap berdoa selalu diawali dengan mensyukuri semua yang diberikan Tuhan. Dengan anak-anak pun saya lebih sabar dan pengertian. Saya pernah minta maaf kepada anak saya karena merasa salah, padahal dulu itu sesuatu yang sulit dilakukan.”
“Dalam hidup, kita cenderung lebih banyak menggunakan otak. Padahal dengan perasaan dan keikhasan kita justru bisa menghasilkan loncatan-loncatan dalam kehidupan. Bermirnpi ketika tidur itu biasa, yang tidak biasa adalah bermimpi di alam sadar. Karena setiap orang harus punya imajinasi untuk diwujudkan, jadi kita perlu melakukan improvisasi dan inovasi terus menerus,” ujarnya lagi.
Doddy Nasution (asisten manager purchasing sebuah perusahaan asing)“Pengalaman saya selelah mengikuti berbagai pelatihan, ternyata bahwa pelatihan yang membuat orang menangis itu efeknya hanya dalam jangka pendek,” tutur Doddy. “Pada saat pelatihan memang rasanya lega, karena kita memang butuh pelepasan masalah-masalah hidup. Tapi setelah di rumah semua masalah itu kembali lagi. Jadi rasanya hanya sesaat lari
dari kenyataan saja, ” lanjutnya.
“Saya lebih cocok dengan solusi yang diberikan kang Jallal (DR Jalaluddin Rakhmat - Red), yaitu dengan membantu orang lain. Beramal baik itu meringankan perasaan. Bukan berarti masalah kita lalu selesai, tapi masalah kita itu menjadi terasa ringan dengan menolong orang tanpa rnemandang agama, suku, ras. Pokoknya kepada semua mahluk Tuhan tanpa pilih-pilih.”
“Dengan berkhidmat kepada sesama seperti itu ternyata membuat kita lebih kuat, meringankan derita, dan lebih cepat mengantarkan kita pada kecerdasan spiritual yang lebih tinggi. Dengan begitu, kita menjadi lebih dekat dengan Tuhan dan Tuhan pun akhirnya memudahkan urusan-urusan kita,” begitu pendapat Doddy Nasution.
Abi (wiraswasta) “Sejak dulu saya memang senang membaca buku-buku psikologi, dan suka mengikuti
seminar-seminar motivasi seperti seminarnya Anthony Robbins, juga pelatihan-pelatihan. Yang saya rasakan, pengaruh semua bacaan, seminar, dan pelatihan itu biasanya hanya bertahan selama 2 bulan,” tutur Abi.
“Tapi sejak mengikuti pelatihan di Katahati, pikiran saya rasanya seperti diset ulang dengan brainwave technology sehingga terjadi perubahan paradigma dan cara saya dalam memandang segala sesuatu. Rasanya saya jadi lebih fokus dalam menghadapi masalah dan bisa tenang. Emosi pun terkontrol dengan baik, saya tak lagi mudah marah dan tersinggung. Di jalanan yang macet, kaiau biasanya merasa mendongkol, kini malah bisa menikmati kemacetan,” tutur Abi.
“Masalah itu kalau dinikmati ternyata bisa menjadi ringan; kalau diterima dengan ikhlas dan senyuman, bisa lebih mudah selesai. Kini karena hati saya bisa menerima segala keadaan, maka tak ada amarah, tak ada perasaan atau tindakan negatif. Sangat luar biasa. Salat menjadi lebih khusyuk, berdzikir pun enak. Kata sekretaris di kantor, sekarang saya juga menjadi lebih sering tersenyum,” demikian Abi.
Iranti Emingpradja (artis, presenter, penulis)
“Mengerti kecerdasan spiritual lewat rasio itu mudah, tapi untuk betul-betul menyadarinya dan mengamalkannya itu susah, ” demikian komentar Irianti Erningpradja. “Buku pertama yang saya tulis adalah tentang kecerdasan spiritual (judulnya Kebiasaan sehari-hari untuk meningkatkan kecerdasan spiritual) Jadi saya sudah lama tahu bahwa ciri orang yang kecerdasan spiritualnya tinggi itu diantaranya mudah memaafkan, jujur, sabar, tidak mudah tersinggung, kreatif, terbuka, spontan, memahami jati diri, memiliki misi hidup,dll. Tapi untuk bisa terus menerus mempraktikkan semua itu ternyata tidak mudah,” sambungnya.
“Sebenarnya saya sudah sering mengikuti pelatihan, tapi setelah mengikuti pelatihan di Katahati Institute, barulah saya sadar bagaimana caranya supaya cerdas spiritual,” katanya.
“Dengan cara connect ke dalam hati, semua karakteristik yang harus dimiliki tersebut ternyata bisa muncul sendiri dari dalam dan lebih mudah dipraktikkan. Jadi bukan lagi berupa hafalan atau teori saja. Kuncinya ternyata satu hal itu, consult your heart.”
“Namun setelah itu bukan berarti lalu semuanya selesai karena manusia tetap harus terus tumbuh. Manusia adalah spirit yang sifatnya tak terbatas. Dengan terus browsing lewat hati, kita bisa terus menemukan pemahaman yang tidak pernah berhenti.” lanjutnya dengan bijak.
Saya menyadari apa yang ada di benak kita dapat terwujud asalkan, kita benar-benar yakin bahwa Allah akan memberi kita tetapi kita harus berusaha untuk menuwujudkannya. Artinya kita tidak hanya tinggal diam menunggu, namun harus tetap aktif. Alhamdulillah beberapa mimpi saya saat ini udah mulai terwujud, meskipun jadi PNS saat sekarang beberapa usaha yang saya impikan mulai menampakkan hasil yang signifikan. Semoga apa yg telah saya dapatkan dapat merambah seluruh insan Indonesia. Jangan pernah menilai orang lain karena penilaian itu hanya akan membebani otak adan hati kita, sehingga kita tak mampu untuk mencari ide-ide maupun usaha untuk bangit. karena otak dan hati kita dipenuhi oleh nilai-nilai orang lain.
satu lagi sebagai seorang pendidik saya sedikit banyak mengajak anak didik saya untuk tidak pernah menyerah dan lebih mudah untuk meminta maaf dalam artinya tidak mencari siapa yang benar dan salah sudah mulai tumbuh dalam jiwa anak didik meskipun masih sebatas 10% tapi lambat laun akan naik dan naik lagi. Semoga Allah meridhoi dan mengabulkan-Nya. Amien
Monday, June 22, 2009
Prihatin
Kenapa ............?
Sekarang ini musim tawuran, antara lain : antar sekolah, antar mahasiswa, antar warga, antar elite politik. Saling menjatuhkan, saling ejek! Kenapa? Apa yang salah? Bisakah diperbaiki?
Jika kita melihat, merenung, mengingat firman Allah dalam Al-Qur'an, sudah benarkah tindakan kita ini. Apa hanya benar untuk kita sendiri, golongan, atau untuk bangsa dan negara ini. Apa sudah tidak ada yang bisa merasakan bahwa kebenaran manusia itu tidak mutlak adanya, kebenaran mutlak hanya milik Allah SWT. Kenapa kita yang beda sedikit pendapat menjadi lebih besar? Apa kita-kita ini memperbesar perbedaan yang ada dengan perbedaan-perbedaan yang pada akhirnya membawa nama golongan, suku, ras atau yang lain. Kenapa sih perbedaan itu tadi tidak dijadikan kaca bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar yang mempunyai ribuan pulau, suku bangsa, bahasa, dan adat istiadat yang maha luhur. Banyak mahasiswa dari manca yang mempelajari budaya kita, tetapi kenapa kita sendiri bahkan menjauhinya atau bahkan tidak peduli.
Apa yang salah?
Menurut hemat saya tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar hanya tergantung sudut pandang kita saja. Dari mana kita melihat, kadang kita melihat hanya dari segi yang menguntungkan kita sendiri, namun jika merugikan kita maka dianggap salah besar. Kembali kepada kebenaran yang hakiki maka kalau yang memandang masih manusia pasti masih melihat untung dan ruginya, tetapi jika kita kembalikan kepada Allah hanya Dia-lah kebenaran itu yang mutlak. Mari kita renungkan kembali hakikat kita rakyat Indonesia ini, jika kita inging maju bukannya menjadikan perbedaan tersebut dihilangkan namun perbedaan itu tadi kita gunakan untuk pendorong semangat yang lebih besar agar bagaimana perbedaan itu memperkuat khasanah budaya Indonesia, menambah kredibilitas berbangsa dan bernegara!
Saya ikut prihatin dengan kejadian baru-baru ini tentang segala hal yang terjadi mulai dari persoalan DPT untuk pemilihan calong anggota legislatif yang terkesan diseskreditkan kepada pemerintah, padahal kita semua ikut bertanggung jawab untuk memperbaiki DPS yang telah dibuat untuk ditetapkan menjadi DPT.
Masalah Pendidikan, saya sebagai salah satu pendidik sangat-sangat menyesalkan kejadian di 19 SMA yang tidak lulus 100%, siapa yang salah? Apakah dunia pendidikan kita ini sekarang sudah jatuh? Atau mungkin karena tekanan dari kurikilum dan dari SKL yang ditetapkan BNSP yang terlalu dipaksakan atau murid-murid yang seperti kerbau yang dicokok hidungnya atau ... atau yang lain. Wallahu alam bi shahab. Hanya Allah Yang Maha Tahu.
Mungkin kita bisa memperbaikinya mulai dari sekarang, seperti sistem pendidikan, kurikulum, UNAS dan lain sebagainya.
Apakah salah satu dampak perselisihan sehingga siswa, mahasiswa dan masyarakat sulit membedakan mana yang baik untuk seluruh komponen bangsa ini. Memang tidak semua orang diuntungkan, tetapi paling tidak banyak yang diuntungkan daripada yang dirugikan. Marilah kita bersama-sama membangun bangsa ini siapapun pemimpin bangsa ini masrilah kita bantu bukannya kita jatuhkan. Kritik boleh, soalnya negara demokrasi namun paling tidak memberikan solusinya dan pantas atau tidak kritik itu kita lontarkan di depan umum, apa dampak dari kritik tersebut pada perubahan perilaku masyarakat. berakitakah pada perselisihan?
Memang dunia ini makin tua, rapuh, dan panas. Akibatnya membawa dampat pada kehidupan manusia. Hanya kesalahan kecil saja berakibat fatal.
Barusan terjadi pagi tadi ada seorang siswa SMP membawa sepeda motor pulang sekolah, karena merasa bisa dia menyalakan gas sepeda dengan kencang-kencangnya padahal jalanan ramai anak yang juga pulang, sehingga mengganggu pendengaran orang lain. Saat itu ada seorang bapak-bapak yang mengingatkan eeeee.... malah diajak berantem karena merasa benar sendiri. Tidak tahunya ternyata dia hidup dimasyarakat. Kejadian ini terjadi di depan mata saya sendiri.
WARA-WARA
Rikala tanggal 1 Juni 2009, ing sekolahan q dianakae acara. Acarane yaiku Launching Internet kang asesirah "MOBILE EDUCATION" kanthi nggandeng sponsor PT. Indosat Tbk, AXIOO, BPR Eka Dharma, JP Telecom, Grasindo lan liya-liyane. Acara iki dirawuhi bapak Sekkab Magetan yaiku bapak Warsito, Kepala Dinas Pendidikan Magetan bapak Bambang T, Subdin bapak Yussy Hermawan. Ora lali Muspika Kecamatan Parang, para wakil saka alumni, lan para Kepala SMP/MTS/SD/MI sekitare Parang. Pangajabe bapak Sekkab yaiku muga-muga kathi di launching internete SMA Negeri 1 Parang saged gawe gregete bocah-bocah pada ngudi ilmu pengetahuan lan teknologi masa iki kareben ora keri karo bocah-bocah ing kutha.
Tanggal 2 Juni dianakake latihan gawe blog dening Indosat lan pesertane saka guru SD/MI/SMP/MTs, ora keri para kanca guru SMA sak Kabupaten Magetan sing kepingin latihan. Murid-murid padha antusias lek kepingin gawe blog, khususe bocah bocah pang wus padha duwe laptop dhewe-dhewe.
O... iya q kelalen menawa Internete ing SMA Negeri 1 Parang iki siji-sijine sing nggunake jasa swasta yaiku saka PT. Indosat Tbk cabang Madiun. Lan sinyale bisa ketangkep udakara radius 15 km saka SMAN 1 Parang.
Lan maneh menawa Hot Spote SMAN 1 Parang on 24 jam bisa diakses karo bocah-bocah nek wis bali saka sekolah, menawa wayah ngaso murid SMAN 1 Parang padha jaduman/lungguhan ning kantin sekolah karo ngedep laptope dhewe-dhewe (90% nggunakake merk AXIOO, seneng karo produksine bangsane dhewe lho).
Kanthi semangat dina Pendidikan Nasional lan Kebangkitan Nasional kita para warga SMAN 1 Parang saiyek saeko praya murih majune SMAN 1 Parang ing jagade pendidikan ing Magetan khususe lan Indonesia umume. Dina iku uga dilaunching website yaiku www.smapa.sch.id sing isine antara liyane sawenehing aktivitase guru, murid lan kabeh warga ing SMAN 1 Parang.
Pangajabe maneh SMAN 1 Parang dina iki golek investor sing pengin gawe kolam renang ing sekolahan, supaya muride iso prestasi ing kolam renang kareben Indonesia orang kekurangan atlet-atlet sing handal. Kolam iku uga bisa digunakake masyarakat sak kiwa tengene SMAN 1 Parang - Magetan.
Muga-muga ana pihak-pihak kang nduweni minat gawe kolam renang saged nggubungi pihak sekolah utawa lumantar e-mail, mlebu ning website SMAN 1 Parang Magetan. SMAN 1 Parang uga nduwe lapangan tennis sing iso dipigunakake karo masyarakat sak kiwa tengene SMAN 1 Parang
Semene wae wara-wara saka q, muga-muga pangajabe para guru, murid, masyarakat Parang bisa kaleksanan.
Rikala tanggal 1 Juni 2009, ing sekolahan q dianakae acara. Acarane yaiku Launching Internet kang asesirah "MOBILE EDUCATION" kanthi nggandeng sponsor PT. Indosat Tbk, AXIOO, BPR Eka Dharma, JP Telecom, Grasindo lan liya-liyane. Acara iki dirawuhi bapak Sekkab Magetan yaiku bapak Warsito, Kepala Dinas Pendidikan Magetan bapak Bambang T, Subdin bapak Yussy Hermawan. Ora lali Muspika Kecamatan Parang, para wakil saka alumni, lan para Kepala SMP/MTS/SD/MI sekitare Parang. Pangajabe bapak Sekkab yaiku muga-muga kathi di launching internete SMA Negeri 1 Parang saged gawe gregete bocah-bocah pada ngudi ilmu pengetahuan lan teknologi masa iki kareben ora keri karo bocah-bocah ing kutha.
Tanggal 2 Juni dianakake latihan gawe blog dening Indosat lan pesertane saka guru SD/MI/SMP/MTs, ora keri para kanca guru SMA sak Kabupaten Magetan sing kepingin latihan. Murid-murid padha antusias lek kepingin gawe blog, khususe bocah bocah pang wus padha duwe laptop dhewe-dhewe.
O... iya q kelalen menawa Internete ing SMA Negeri 1 Parang iki siji-sijine sing nggunake jasa swasta yaiku saka PT. Indosat Tbk cabang Madiun. Lan sinyale bisa ketangkep udakara radius 15 km saka SMAN 1 Parang.
Lan maneh menawa Hot Spote SMAN 1 Parang on 24 jam bisa diakses karo bocah-bocah nek wis bali saka sekolah, menawa wayah ngaso murid SMAN 1 Parang padha jaduman/lungguhan ning kantin sekolah karo ngedep laptope dhewe-dhewe (90% nggunakake merk AXIOO, seneng karo produksine bangsane dhewe lho).
Kanthi semangat dina Pendidikan Nasional lan Kebangkitan Nasional kita para warga SMAN 1 Parang saiyek saeko praya murih majune SMAN 1 Parang ing jagade pendidikan ing Magetan khususe lan Indonesia umume. Dina iku uga dilaunching website yaiku www.smapa.sch.id sing isine antara liyane sawenehing aktivitase guru, murid lan kabeh warga ing SMAN 1 Parang.
Pangajabe maneh SMAN 1 Parang dina iki golek investor sing pengin gawe kolam renang ing sekolahan, supaya muride iso prestasi ing kolam renang kareben Indonesia orang kekurangan atlet-atlet sing handal. Kolam iku uga bisa digunakake masyarakat sak kiwa tengene SMAN 1 Parang - Magetan.
Muga-muga ana pihak-pihak kang nduweni minat gawe kolam renang saged nggubungi pihak sekolah utawa lumantar e-mail, mlebu ning website SMAN 1 Parang Magetan. SMAN 1 Parang uga nduwe lapangan tennis sing iso dipigunakake karo masyarakat sak kiwa tengene SMAN 1 Parang
Semene wae wara-wara saka q, muga-muga pangajabe para guru, murid, masyarakat Parang bisa kaleksanan.
Subscribe to:
Posts (Atom)

